BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tidak dapa kita pungkiri bahwa
perkembangan peradaban manusia yang
ada pada saat ini merupakan
bentuk desakan dari pengaruh berkembangnya aspek-aspek kehidupan di masa lalu.
Manusia dengan alam pikirannya selalu melahirkan inovasi baru yang pada akhirnya
memberikan efek saling tular serta membentuk sikap tertentu pada lingkungannya.
Fenomena ini akan membawa kita pada masa depan manusia yang berbeda dan lebih
kompleks.
Prediksi pada ilmuwan Barat yang menyatakan bahwa agama formal (organized religion) akan lenyap, atau setidaknya akan menjadi urusan pribadi, ketika iptek dan filsafat semakin berkembang, ternyata tidak terbukti. Sebaliknya, dewasa ini sedang terjadi proses artikulasi peran agama (formal) dalam berbagai jalur sosial, politik, ekonomi, bahkan dalam teknologi.Manusia yang berpikir filsafati, diharapkan bisa memahami filosofi kehidupan, mendalami unsur-unsur pokok dari ilmu yang ditekuninya secara menyeluruh sehingga lebih arif dalam memahami sumber, hakikat dan tujuan dari ilmu yang ditekuninya, termasuk pemanfaatannya bagi masyarakat.
Prediksi pada ilmuwan Barat yang menyatakan bahwa agama formal (organized religion) akan lenyap, atau setidaknya akan menjadi urusan pribadi, ketika iptek dan filsafat semakin berkembang, ternyata tidak terbukti. Sebaliknya, dewasa ini sedang terjadi proses artikulasi peran agama (formal) dalam berbagai jalur sosial, politik, ekonomi, bahkan dalam teknologi.Manusia yang berpikir filsafati, diharapkan bisa memahami filosofi kehidupan, mendalami unsur-unsur pokok dari ilmu yang ditekuninya secara menyeluruh sehingga lebih arif dalam memahami sumber, hakikat dan tujuan dari ilmu yang ditekuninya, termasuk pemanfaatannya bagi masyarakat.
Sejarah umat manusia sesungguhnya tidak pernah sunyi dari
para pencari Tuhan. Dengan dorongan sifat fitri keimanan (Religionitas),umat
manusia melakukan pencarian demi pencarian Tuhan yang sebenarnya. Bagi sebagian
orang,agama memang menjadi jawaban. Namun demikian,sejak ratusan tahun bahkan
ribuan tahun silam,dunia telah diramaikan oleh para filusuf yang selalu
terlibat dalam diskursus ketuhanan (teologi), bahkan dalam wacana tentang
asal-usul alam semesta (ontologi) dang tn ilmu pengetahuan (epistemologi).
1.2
Rumusan Masalah
1.
Mengapa di dalam mencari kebenaran agama itu terdapat
hubungannya dengan ilmu?
2.
Apakah agama itu harus diyakini dan dimilki setiap orang?
3.
Bagaimana cara seseorang untuk menuangkan gagasan atau ide ?
4.
Bagaimana keterkaitan hubungan ilmu,agama dan seni ?
5.
Apa yang menjadi titik perbedaan antara ilmu dan agama ?
1.3
Tujuan
Tujuan kami untuk mengetahui bahwa hubungan
ilmu,agama dan seni sangat erat dan saling terkait antara satu dan lainnya.
Dimana ketiganya memiliki kekuatan daya gerak dan refleksi yang berasal dari
manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Pengertian Ilmu
Kata ilmu berasal dari bahasa arab (alima) dan berarti pengetahuan.
Ilmu adalah pengetahuan. Dengan “pengetahuan ilmu” dimaksud pengetahuan yang
pasti,eksak dan betul-betul terorganisasi. Jadi pengetahuan yang berasaskan
kenyataan dan tersusun baik. Ilmu mengandung tiga kategori isi:hipotesis,teori
dan dalil hukum. Ilmu merupakan perkembangan lanjut dan mendalam dari
pengetahuan indra. Ilmu haruslah sistematis dan berdasarkan metodologi dan ia
berusaha mencapai generalisasi.
Dalam kajian ilmiah,kalau data yang baru terkumpul sedikit
atau belum cukup, maka ilmuwan membina hipotesis. Hipotesis ialah dugaan
pikiran berdasarkan sejumlah data.
Macam-macam jenis
ilmu:
1.
Ilmu praktis. Ia tidak hanya sampai kepada hukum umum atau
abstraksi,tidak hanya terhenti pada teori,tetapi menuju kepada dunia kenyataan.
Ia mempelajari hubungan sebab-akibat untuk di terapkan dalam alam kenyataan.
2.
Ilmu praktis normatif. Ia memberi ukuran-ukuran (kriterium)
dan norma-norma.
3.
Ilmu praktis positif. Ia memberikan ukuran atau norma yang
lebih halus daripada ilmu praktis normatif. Norma yang dikaji ialah bagaimana
membuat sesuatau atau tindakan apa yang harus dilakukan untuk mencapai hasil
tertentu,
4.
Ilmu spekulatif ideografis. Ilmu spekulatif yang tujuannya
mengkaji kebenaran objek dalam wujud nyata dalam ruang dan waktu tertentu.
5.
Ilmu spekulatif-nomotetis. Ia bertujuan mendapatkan hukum
umum atau generalisasi substantif.
6.
Ilmu spekulatif-teoretis. Ia bertujuan memahami kausalitas.
Tujuannya memperoleh kebenaran dari keadaanatau peristiwa tertentu
1.2 Pengertian Agama
Agama merupakan suatu lembaga atau institusi penting
yang mengatur kehidupan rohani manusia. Pengertian agama dalam konsep Sosiologi
adalah kepercayaan terhadap hal-hal yang spiritual,perangkat kepercayaan dan
praktik-praktik spiritual yang dianggap sebagai tujuan tersendiri dan ideologi mengenai
hal-hal yang bersifat supranatural. Dalam konsepsi ini, agama memiliki peranan
yang paling penting dalam kehidupan manusia. Dalam kehidupan sosial, keberadaan
lembaga agama sangat mempengaruhi perilaku manusia. Dengan agama manusia dapat
membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Dengan
demikian, agama merupakan pedoman hidup manusia untuk dapat berhubungan dengan
Pencipa dan berhubungan dengan sesama manusia.
Unsur-unsur agama antara lain :
1. Kepercayaan agama. Prinsip yang
dianggap benar tanpa ada keraguan lagi.
2. Simbol agama. Identitas agama yang
dianut umatnya.
3. Praktik keagamaan. Hubungan vertikal
antara manusia dengan Tuhan-Nya, dan hubungan horizontal atau hubungan
antarumat sesuai ajaran agama.
4. Pengalaman keagamaan. Berbagai
bentuk pengalaman keagamaan yang dialami oleh penganut-penganut secara pribadi.
5. Umat beragama. Penganut
masing-masing agama.
Agama diyakini dan dimiliki hampir semua orang karena
agama dinilai mempunyai manfaat yang tercermin dari tugas atau fungsi agama itu
sendiri. Adapun fungsi agama ada beberapa, diantaranya :
1. Sumber pedoman hidup bagi individu
maupun kelompok.
2. Mengatur tata cara hubungan manusia
dengan Tuhan dan sesama manusia.
3. Merupakan tuntutan tentang prinsip
benar atau salah.
4. Pedoman mengungkapkan rasa
kebersamaan.
5. Pedoman perasaan keyakinan.
6. Pedoman keberadaan.
7. Pengungkapan estetika (keindahan).
8. Pedoman rekreasi dan hiburan.
9. Memberikan identitas kepada manusia
sebagai umat dari suatu agama.
1.3 Pengertian Seni
Seni
adalah ide, gagasan, perasaan, suara hati, gejolak jiwa, yang diwujudkan atau
di ekspresikan melalui unsur unsur tertentu, yang bersifat indah untuk memenuhi
kebutuhan manusia walaupun banyak juga karya seni yang digunakan untuk
binatang. Seni indah menurut ukuran yang menikmatinya.
Seni mempunyai beberapa cabang, diantaranya :
1. Seni Rupa
2. Seni Tari/gerak
3. Seni Suara/Vocal/Musik
4. Seni Sastra
5. Seni Teater/drama
Unsur-unsur seni antara lain :
a. Garisan. Garisan merupakan cantuman
titik-titik yang bersambungan atau yang mempunyai jarak tertentu. Garisan
memainkan peranan yang amat penting dalam menwujudkan rupa, bentuk, jalinan,
pergerakan, ton dan corak. Garisan juga memainkan peranan yang penting dalam
menunjukkan seseorang perasaan dalam sesebuah karya.
b. Bentuk. Bentuk ialah merupakan objek
yang mempunyai keluasan, ketinggian dan mempunyai permukaan yang lebih daripada
satu.
c. Jalinan. Jalinan bermaksud kesan
yang terdapat dalam seseuatu permukaan objek. Jalinan terbahagi kepada dua
yaitu jalinan sentuh danjalinan tampak.
d. Ruang. Ruang ialah kawasan kosong
yang terdapat dalam suatu objek ataupun jarak yang ada diantara kedua objek
dalam sesebuah karya seni.
e. Warna. Warna memainkan peranan yang
penting dalam menwujudkan suasana yang tidak bosan. Warna dapat menunjukan
perasaan seseorang pelukis semasa menggunakan jenis-jenis warna dalam
penghasilan lukisan. Warna merupakan elemen yang amat penting dalam bidang seni
visual.
1.4 Hubungan Agama dan Seni
Agama dan
seni adalah dua hal yang selalu ada dalam setiap hidup manusia. Keduanya
mempunyai kedudukan tersendiri dalam hidup masing-masing orang. Maka tidaklah
salah jika keduanya mempunyai hubungan. Adapun beberapa pola hubungan antara
agama dan seni adalah antara lain :
a. Agama memerlukan perwujudan dalam
bentuk benda dan tindakan, baik untuk mengungkapkan maupun membangkitkan
emosi keagamaan di kalangan pemeluk kepercayaan suatu agama, agar agama
benar-benar dirasakan/dihayati manusia.
b. Kemampuan suatu benda atau tindakan
untuk mengungkap atau membangkitkan emosi keagamaan bersandar pada daya
simbolik yang dimiliki oleh benda atau tindakan tersebut.
c. Daya simbolik suatu benda atau
perilaku keagamaan bertumpu pada sistem kepercayaan manusia terhadap keberadaan
Yang Maha Kuasa.
d. Kemampuan suatu benda atau perilaku
untuk membangkitkan atau mengungkapkan emosi keagamaan, pada dasarnya selaras
dengan daya pesona yang dimiliki oleh benda atau perilaku seni.
e. Pesona yang dimiliki oleh benda atau
perilaku agama tersebut merupakan efek dari penerapan suatu teknologi dan
teknik tertentu pada material seni
1.5
Hubungan Ilmu dan Agama
a. Titik Persamaan
Baik ilmu dan agama bertujuan
sekurang-kurangnya berusaha berurusan dengan hal yang sama, yaitu kebenaran.
Ilmu pengetahuan dengan metodenya sendiri mencari kebenaran tentang alam dan
manusia. Agama dengan karakteristiknya memberikan jawaban atas segala persoalan
asasi yang dipertanyakan manusia ataupun tentang tuhan.
b. Titik Perbedaan
Ilmu merupakan
hasil dari sumber ra’yu (akal, budi,rasio) manusia. Sedangkan agama
bersumberkan wahyu dari Allah swt.Ilmu pengetahuan mencari kebenaran denan
jalan penyelidikan (riset, research), pengalaman (empiri), dan percobaan
(eksperimen) sebagai batu ujian.
Manusia mencari dan menemukan
kebenaran dalam agama dengan jalan mempertanyakan (mencari jawaban tentang)
berbagai masalah asasi dari atau kepada kitab suci, kodifikasi firman ilahi
untuk manusia. Kebenaran ilmu pengetahuan ialah kebenaran fositif (berlaku
sampai dengan saat ini ),
Kebenaran filsafat adalah kebenaran
spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiris, reset dan
eksperimental). Baik kebenaran ilmu maupun filsafat, kedua-duanya nisbi
(relative).
Sedangkan kebenaran agama bersifat
mutlak (absolute) karena agama adalah wahyu yang diturunkan oleh zat yang Maha
Benar, Maha Mutlak, dan Maha sempurna, yaitu Allah swt.
Baik ilmu maupun
filsafat,kedua-duanya bermulai dengan sikap sangsi atau tidak percaya dan iman.
c. Titik Singgung
Tidak smua masalah yang
dipertanyakan manusia dapat dijawab secara positif oleh ilmu pengetahuan,
karena ilmu itu terbatas : Allah swt; terbatas oleh subjeknya (sang
penyelidik), oleh subyeknya (naik objek material maupun objek formalnya), oleh
metodologinya. Tidak semua masalah yang tidak atau belum dijawab oleh ilmu,
lantas dengan sendirinya dapat dijawab oleh filsafat. Jawaban filsafat sifatnya
spekulatif dan alternative. Tentang suatu masalah asasi yang sama terdapat
berbagai jawaban filsafat (para fisuf) sesuai dengan jalan dengan titik tolak
sang ahli filsafat itu. Agam member jawaban tentang banyak soal sasi yang
samasekali tidak terjawab oleh ilmu, yang dipertanyakan (namun tidak terjawab
secar bulat ) oleh filsafat.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Ø
Ilmu adalah hasil usaha pemahaman manusia yang disusun dalam suatu system
mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian tentang hokum-hukum dan
hal ikhwaal yang diselidikinya.
Ø Filsafat berarti berfikir, jadi yang
penting ialah ia dapat berfikir.
Ø Agama adalah suatu system credo
(tata keimanan dan tata keyakinan) atas adanya sesuatu yang mutlak diluar
manusia.
Ø Ilmu, filsafat dan agama mempunyai
hubungan yang terkait dan reflektif dengan manusia. Dikatakan terkait karena
ketiganya tidak dapat bergerak dan berkembang apabila tidak adaa alat dan
tenaga utama manusia, tiga alat daan tenaga utama manusia itu adalah : akal
fikir, rasa dan keyakinan, sehingga dengan ketiga hal tersebut manusia dapat
mencapai kebahagiaan dirinya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad syadali, mudzakir.2004.filsafat umum,pustaka setia. Bandung.
http://mawarputrijulica.wordpress.com/2011/03/07/filsafat-ilmu-hubungan-iptek-agama-budaya/
0 comments:
Post a Comment