Tuesday, 1 December 2015

KRITERIA DAN CARA PENEMUAN KEBENARAN FILSAFAT

BAB I
 PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Manusia selalu berusaha menemukan kebenaran. Beberapa cara ditempuh untuk memperoleh kebenaran,  antara lain dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau empiris. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia membuahkan prinsip-prinsip yang lewat penalaran rasional, kejadian-kejadian yang berlaku di alam itu dapat dimengerti. Ilmu pengetahuan harus dibedakan dari fenomena alam. Fenomena alam adalah fakta, kenyataan yang tunduk pada hukum-hukum yang menyebabkan fenomena itu muncul.

 Setiap tingkat pengetahuan dalam struktur tersebut menunjukkan tingkat kebenaran yang berbeda. Tingkat pengetahuan yang lebih tinggi adalah pengetahuan rasional dan intuitif, sedangkan tingkat yang lebih rendah yaitu yang menangkap kebenaran secara tidak lengkap, tidak terstruktur, dan pada umumnya kabur, khususnya pada pengetahuan inderawi dan naluri.

Kebenaran dapat dikelompokkan dalam tiga makna: kebenaran moral, kebenaran logis, dan kebenaran metafisik. Kebenaran moral menjadi bahasa, etika, ia menunjukkan hubungan antara yang kita nyatakan dengan apa yang kita rasakan. Kebenaran logis menjadi bahasan epistemologi, logika, dan psikologi, ia merupakan hubungan antara pernyataan dengan realitas objektif. Kebenaran metafisik berkaitan dengan yang-ada sejauh berhadapan dengan akal budi, karena yang ada mengungkapkan diri kepada akal budi. Yang ada merupakan dasar dari kebenaran, dan akal budi yang menyatakannya.





  1. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini ada beberapa masalah yang akan dibahas, antara lain : a.   Pengertian Kebenaran
b.   Hakekat Kebenaran.
c.   Teori-teori atau Kriteria Kebenaran.
d.   Cara Penemuan Kebenaran filsafat ilmu
e.   Sifat Kebenaran ilmu.

  1. Tujuan Penulisan
Adapun manfaat pembuatan makalah ini adalah :
a.    Agar mahasiswa mampu mengetahui pengertian kebenaran ilmu pengetahuan.
b.    Agar mahasiswa mampu mengetahui Hakekat Kebenaran dan Macamnya.
c.    Agar mahasiswa dapat menjelaskan apa saja Teori-teori atau Kriteria Kebenaran Filsafat Ilmu
d.   Mahasiswa mampu menjelaskan tentang Cara Penemuan Kebenaran Filsafat Ilmu.
e.    Mahasiswa mampu menjabarkan apa saja sifat-sifat kebenaran ilmu pengetahuan.
e.











BAB II
PEMBAHASAN

  1. Pengertian Kebenaran

Kebenaran adalah suatu nilai utama dalam kehidupan human atau manusia.  Kebenaran merupakan keadaan yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya. Kata “kebenaran” dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkrit maupun abstrak.  Artinya sifat manusiawi dan martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha ‘’memeluk’’ suatu kebenaran.
Beberapa definisi kebenaran dapat di kaji bersama dari beberapa sumber, antara lain Kamus Umum Bahasa Indonesia oleh Purwadarminta, arti kebenaran yaitu:
  1. Keadaan yang benar (cocok dengan hal atau keadaan sesungguhnya)
  2. Sesuatu yang benar (sunguh-sungguh ada, betul demikian halnya)
  3. Kejujuran, ketulusan hati,
  4. Selalu izin, perkenan,
  5. Jalan kebetulan.
  1. Hakekat Kebenaran
Mencari hakekat kebenaran mungkin sering kita ucapkan, tapi susah dilaksanakan. Yang pasti bahwa ”benar” itu pasti “tidak salah”. Banyak para ahli yang memaparkan ide tentang sudut pandang kebenaran termasuk bagaimana membuktikannya. Masalah hakekat kebenaran ini bisa diulas dari tiga sudut pandang yaitu:

1.      Kebenaran Ilmiah
Yaitu kebenaran yang diperoleh secara mendalam berdasarkan proses penelitian dan penalaran logika ilmiah. Diantaranya :

*      Kebenaran Pragmatis
Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila memiliki kegunaan/manfaat praktis dan bersifat fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, Yadi mau bekerja di sebuah perusahaan minyak karena diberi gaji tinggi. Yadi bersifat pragmatis, artinya mau bekerja di perusahaan tersebut karena ada manfaatnya bagi dirinya, yaitu mendapatkan gaji tinggi.

*      Kebenaran Koresponden:
Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila materi pengetahuan yang terkandung didalamnya berhubungan atau memiliki korespondensi dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Teori koresponden menggunakan logika induktif, artinya metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Dengan kata lain kesimpulan akhir ditarik karena ada fakta-fakta mendukung yang telah diteliti dan dianalisa sebelumnya. Contohnya, Jurusan teknik elektro, teknik mesin, dan teknik sipil Unesa ada di Ketintang.  Jadi Fakultas Teknik Unesa ada di Ketintang.

*      Kebenaran Koheren:
Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila konsisten dan memiliki koherensi dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Teori koheren menggunakan logika deduktif, artinya metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal umum ke khusus. Contohnya, seluruh mahasiswa Unesa harus mengikuti kegiatan Ospek. Luri adalah mahasiswa Unesa, jadi Luri harus mengikuti kegiatan Ospek.

2.      Kebenaran Non-Ilmiah
Berbeda dengan kebenaran ilmiah yang diperoleh berdasarkan penalaran logika ilmiah, ada juga kebenaran karena faktor-faktor non-ilmiah. Beberapa diantaranya adalah:



*      Kebenaran Karena Kebetulan:
Kebenaran yang didapat dari kebetulan dan tidak ditemukan secara ilmiah. Tidak dapat diandalkan karena kadang kita sering tertipu dengan kebetulan yang tidak bisa dibuktikan.

*      Kebenaran karena Akal Sehat (Common Sense):
Akal sehat adalah serangkaian konsep yang dipercayai dapat memecahkan masalah secara praktis. 

*      Kebenaran Agama dan Wahyu:
Kebenaran mutlak dan asasi dari Allah dan Rasulnya. Beberapa hal masih bisa dinalar dengan panca indra manusia, tapi sebagian hal lain tidak.

*      Kebenaran Intuitif
Kebenaran yang didapat dari proses luar sadar tanpa menggunakan penalaran dan proses berpikir. Kebenaran intuitif sukar dipercaya dan tidak bisa dibuktikan, hanya sering dimiliki oleh orang yang berpengalaman lama dan mendarah daging di suatu bidang.

*      Kebenaran Karena Trial dan Error:
Kebenaran yang diperoleh karena mengulang-ulang pekerjaan, baik metode, teknik, materi dan paramater-parameter sampai akhirnya menemukan sesuatu. Tetapi memerlukan waktu lama dan biaya tinggi.

*      Kebenaran Spekulasi
Kebenaran karena adanya pertimbangan meskipun kurang dipikirkan secara matang. Dikerjakan dengan penuh resiko, relatif lebih cepat dan biaya lebih rendah daripada trial-error.

*      Kebenaran Karena Kewibawaan:
Kebenaran yang diterima karena pengaruh kewibawaan seseorang. Seorang tersebut bisa ilmuwan, pakar atau ahli yang memiliki kompetensi dan otoritas dalam suatu bidang ilmu. Kadang kebenaran yang keluar darinya diterima begitu saja tanpa perlu diuji. Kebenaran ini bisa benar tapi juga bisa salah karena tanpa prosedur ilmiah.

3.      Kebenaran filsafat.
Kebenaran yang diperoleh dengan cara merenungkan atau memikirkan sesuatu sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya, baik sesuatu itu ada atau mungkin ada.
*      Realisme:
Mempercayai sesuatu yang ada di dalam dirinya sendiri dan sesuatu yang pada hakekatnya tidak terpengaruh oleh seseorang.
*      Naturalisme:
Sesuatu yang bersifat alami memiliki makna, yaitu bukti berlakunya hukum alam dan terjadi menurut kodratnya sendiri.
*      Positivisme:
Menolak segala sesuatu yang di luar fakta, dan menerima sesuatu yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Tolok ukurnya adalah nyata, bermanfaat, pasti, tepat dan memiliki keseimbangan logika.
*      Materialisme Dialektik:
Orientasi berpikir adalah materi, karena materi merupakan satu-satunya hal yang nyata, yang terdalam dan berada diatas kekuatannya sendiri.
*      Idealisme: 
Idealisme menjelaskan semua obyek dalam alam dan pengalaman sebagai pernyataan pikiran.
*      Pragmatisme:
Hidup manusia adalah perjuangan hidup terus menerus, yang sarat dengan konsekuensi praktis. Orientasi berpikir adalah sifat praktis, karena praktis berhubungan erat dengan makna dan kebenaran.




Kebenaran dapat dikelompokkan dalam tiga makna:
·         Kebenaran Moral
Kebenaran moral menjadi bahasan etika, menunjukkan hubungan antara yang kita nyatakan dengan apa yang kita rasakan.
·         Kebenaran Logis
Kebenaran logis menjadi bahasan epistemologi, logika, dan psikologi, merupakan hubungan antara pernyataan dengan realitas objektif.
·         Kebenaran Metafisik
Kebenaran metafisik berkaitan dengan yang-ada sejauh berhadapan dengan akalbudi, karena yang ada mengungkapkan diri kepada akal budi. Yang ada merupakan dasar dari kebenaran, dan akalbudi yang menyatakannya.

  1. Kriteria  Kebenaran/ Teori-Teori Kebenaran
Ada 3 teori yang mengungkapkan kriteria kebenaran :
1)   Teori Korespondensi (Teori Persesuaian/Obyektivisme)
Kebenaran merupakan persesuaian antara fakta dan situasi nyata. Kebenaran merupakan persesuaian antara pernyataan dalam pikiran dengan situasi lingkungannya.
Menurut teori ini, kebenaran adalah kesetiaan kepada realita obyektif (fidelity to objective reality).  Kebenaran Korespondensi adalah persesuaian antara pernyataan tentang fakta dan fakta itu sendiri, atau antara pertimbangan (judgement) dan situasi, karena kebenaran mempunyai keterkaitan erat antara kenyataan dan pernyataan yang diungkapkan. Ujian kebenaran dengan teori korespondensi adalah yang paling diterima secara luas oleh kelompok realis.  Jadi, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
Dengan ini Aristoteles sudah meletakkan dasar bagi teori kebenaran sebagai persesuaian bahwa kebenaran adalah persesuaian antara apa yang dikatakan dengan kenyataan. Menurut teori ini, kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah soal sesuai tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya.

2) Teori Koherensi/Kebenaran Konsistensi (Teori Keteguhan)
Sesuatu dikatakan benar jika yang menjadi dasar kebenaran adanya konsistensi dengan hukum-hukum berfikir formal tertentu.  Teori ini merupakan menyatakan bahwa pernyataan dan kesimpulan yang ditarik harus konsinten dengan pernyataan dan kesimpulan terdahulu yang dianggap benar. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori koherensi suatu pernyatan dianggap benar bila pernyataan tersebut bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
Artinya pertimbangan adalah benar jika pertimbangan itu bersifat konsisten dengan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya, yaitu yang koheren menurut logika.  Contohnya Matematika, adalah bentuk pengetahuan yang penyusunannya dilakukan pembuktian berdasarkan teori koheren.
Kelompok idealis, seperti Plato juga filsuf-filsuf modern seperti Hegel, Bradley dan Royce memperluas prinsip koherensi sehingga meliputi dunia, dengan begitu maka tiap-tiap pertimbangan yang benar dan tiap-tiap sistem kebenaran yang parsial bersifat terus menerus dengan keseluruhan realitas dan memperolah arti dari keseluruhan tersebut.  Meskipun demikian perlu lebih dinyatakan dengan referensi kepada konsistensi faktual, yakni persetujuan antara suatu perkembangan dan suatu situasi lingkungan tertentu.

3) Teori Pragmatik (Teori konsekuensi kegunaan)
            Teori pragmatik dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yang berjudul “How to Make Ideals Clear”. Teori ini kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika. Ahli-ahli filasafat ini di antaranya adalah William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Hobart Mead (1863-1931) dan C.I. Lewis.
Teori kebenaran pragmatis adalah teori yang berpandangan bahwa arti dari ide dibatasi oleh referensi pada konsekuensi ilmiah, personal atau sosial. Kebenaran suatu pernyataan harus bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Menurut teori pragmatis, kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan. Artinya, suatu pernyataan adalah benar, jika konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia.
Kaum pragmatis berpaling kepada metode ilmiah sebagai metode untuk mencari pengetahuan tentang alam ini yang dianggapnya fungisional dan berguna dalam menafsirkan gejala-gejala alamiah.  Kriteria pragmatisme ini juga dipergunakan oleh ilmuwan dalam menentukan kebenaran dilihat dari perspektif waktu.
Bagi para kaum pragmatis, batu ujian kebenaran adalah kegunaan (utility), dapat dikerjakan (workability).  Teori ini tidak mengakui adanya kebenaran yang tetap atau mutlak kebenarannya tergantung pada manfaat dan akibatnya. Akibat/ hasil yang memuaskan bagi kaum pragmatis adalah :
o   Sesuai dengan keinginan dan tujuan
o   Sesuai dengan teruji dengan suatu eksperimen
o   Ikut membantu dan mendorong perjuangan untuk tetap eksis (ada).









  1. Cara Penemuan Kebenaran
Untuk memperoleh kebenaran pengetahuan yang benar ada 2 cara yang dapat ditempuh, yaitu dengan cara Non-Ilmiah dan cara Ilmiah.

  1. Dengan Cara Non-Ilmiah

• Akal Sehat (common sence)
Adalah serangkaian konsep dan bagan yang memuaskan untuk penggunan praktis bagi kemanusiaan. Konsep adalah pernyataan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal khusus. Sedangkan bagan konsep adalah seperangkat konsep yang dirangkaikan dengan dalil-dalil hipotesis dan teori.

• Prasangka
Penemuan pengetahuan yang dilakukan melalui akal sehat dan kebanyakan diwarnai oleh kepentingan orang yang melakukannya. Hal ini menyebabkan akal sehat mudah berubah menjadi prasangka. Dengan akal sehat orang cenderung ke arah perbuatan generalisasi yang terlalu dipaksakan, generalisasi dari hubungan sebab akibat, sehingga hal tersebut menjadi prasangka.

• Pendekatan Intuitif
Dalam pendekatan ini orang memberikan pendapat tentang suatu hal yang berdasarkan atas “pengetahuan” yang langsung atau didapat dengan cepat melalui proses yang tidak disadari atau tidak dipikirkan terlebih dahulu. Dengan intuitif orang memberi penilaian tanpa didahului oleh suatu renungan.

• Kebetulan atau Coba-Coba
Penemuan secara kebetulan dan coba-coba, banyak diantaranya yang sangat berguna.  Penemuan ini diperoleh tanpa rencana, dan tidak pasti.  Penemuan kebenaran secara kebetulan atau melalui coba-coba didasarkan atas pikiran logis semata.  Misalnya, seorang anak yang terkunci dalam kamar, dalam kebingungannya ia mencoba keluar lewat jendela dan berhasil.

· Pendapat otoritas ilmiah dan pikiran ilmiah
Otoritas ilmiah biasanya dapat diperoleh seseorang yang telah menempuh pendidikan formal tertinggi, misalnya Doktor atau seseorang dengan pengalaman profesional atau kerja ilmiah dalam suatu bidang yang cukup banyak (profesor). Pendapat mereka seringkali diterima sebagai sebuah kebenaran tanpa diuji, karena apa yang mereka telah dipandang benar. Padahal, pendapat otoritas ilmiah tidak selamanya benar, bila pendapat tersebut tidak disandarkan pada hasil penelitian, namun hanya disandarkan pada pikiran logis semata.

  1. Dengan Cara Ilmiah
Penemuan kebenaran dengan cara ilmiah adalah berupa kegiatan penelitian ilmiah dan dibangun atas teori-teori tertentu.  Kita dapat pahami bahwa teori-teori tersebut berkembang melalui penelitian ilmiah, yaitu penelitian yang dilakukan secara sistematis dan terkontrol berdasarkan data-data empiris yang ditemukan di lapangan. 
Teori yang ditemukan harus dapat diuji keajekan dan kejituan internalnya. Artinya, jika penelitian ulang dilakukan dengan langkah-langkah serupa pada kondisi yang sama maka akan diperoleh hasil yang sama atau hampir sama.
Untuk sampai pada kebenaran ilmiah ini, maka harus melewati 3 tahapan berpikir ilmiah yang harus dilewati, yaitu:

1.    Skeptik
Cara berfikir ilmiah pertama ini ditandai oleh cara orang di dalam menerima kebenaran informasi atau pengetahuan tidak langsung di terima begitu saja, namun dia berusaha untuk menanyakan fakta atau bukti terhadap tiap pernyataan yang diterimanya.

2.    Analitik
Cara ini ditandai oleh cara orang dalam melakukan setiap kegiatan, ia selalu berusaha menimbang-nimbang setiap permasalahan yang dihadapinya, mana yang relevan dan mana yang menjadi masalah utama dan sebagainya.  Dengan cara ini maka jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi akan dapat diperoleh sesuai dengan apa yang diharapkan.

3.    Kritis
Cara berfikir ilmiah ketiga adalah ditandai dengan orang yang selalu berupaya mengembangkan kemampuan menimbang setiap permasalahan yang dihadapinya secara objektif.  Hal ini dilakukan agar semua data dan pola berpikir yang diterapkan selalu logis.

E. Sifat Kebenaran Ilmu
            Kebenaran mempunyai banyak aspek, dan bahkan bersama ilmu dapat didekati secara terpilah dan hasil yang bervariasi atas objek yang sama.
1. Evolusionisme
            Suatu teori adalah tidak pernah benar dalam pengertian sempurna, paling bagus hanya berusaha menuju ke kebenaran. Thomas Kuhn berpandangan bahwa kemajuan ilmu tidaklah bergerak menuju ke kebenaran, jadi hanya berkembang. Sejalan dengan itu Pranarka melihat ilmu selalu dalam proses evolusi apakah berkembang ke arah kemajuan ataukah kemunduran, karena ilmu merupakan hasil aktivitas manusia yang selalu berkembang dari jaman ke jaman.
Kebenaran ilmu walau diperoleh secara konsensus namun memiliki sifat universal sejauh kebenaran ilmu itu dapat dipertahankan. Sifat keuniversalan ilmu masih dapat dibatasi oleh penemuan-penemuan baru atau penemuan lain yang hasilnya menggugurkan penemuan terdahulu atau bertentangan sama sekali, sehingga memerlukan penelitian lebih mendalam . Jika hasilnya berbeda dari kebenaran lama maka maka harus diganti oleh penemuan baru atau kedua-duanya berjalan bersama dengan kekuatannya atas kebenaran masing-masing.

2. Falsifikasionis
            Popper dalam memecahkan tujuan ilmu sebagai pencarian kebenaran ia berpendapat bahwa ilmu tidak pernah mencapai kebenaran, paling jauh ilmu hanya berusaha mendekat ke kebenaran (verisimilitude). Menurutnya teori-teori lama yang telah diganti adalah salah bila dilihat dari teori-teori yang berlaku sekarang atau mungkin kedua-duanya salah, sedangkan kita tidak pernah mengetahui apakah teori sekarang itu benar. Yang ada hanyalah teori sekarang lebih superior dibanding dengan teori yang telah digantinya.
Namun verisimilitude tidak sama dengan probabilitas, karena probabilitas merupakan konsep tentang menedekati kepastian lewat suatu pengurangan gradual isi informatif. Sebaliknya, verisimilitude merupakan konsep tentang mendekati kebenaran yang komprehensif. Jadi verisimilitude menggabungkan kebenaran dengan isi, sementara probabilitas menggabungkan kebenaran dengan kekurangan isi.
Tesis utama Popper ialah bahwa kita tidak pernah bisa membenarkan (justify) suatu teori. Tetapi terkadang kita bisa “membenarkan” dalam arti lain pemilihan kita atas suatu teori, dengan mempertimbangkan kenyataan bahwa teori tersebut sampai kini bisa bertahan terhadap kritik lebih tangguh daripada teori saingannya (Taryadi, 1989: 75).

3. Relativisme
            Relativisme berpandangan bahwa bobot suatu teori harus dinilai relative dilihat dari penilaian individual atau grup yang memandangnya. Feyerabend memandang ilmu sebagai sarana suatu masyarakat mempertahankan diri, oleh karena itu kriteria kebenaran ilmu antar masyarakat juga bervariasi karena setiap masyarakat punya kebebasan untuk menentukan kriteria kebenarannya.
Pragmatisme tergolong dalam pandangan relativis karena menganggap kebenaran merupakan proses penyesuaian manusia terhadap lingkungan. Karena setiap kebenaran bersifat praktis maka tiada kebenaran yang bersifat mutlak, berlaku umum, bersifat tetap, berdiri sendiri, sebab pengalaman berjalan terus dan segala sesuatu yang dianggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya.
4. Objektivisme
            Apa yang diartikan sebagai “benar” ketika kita mengklain suatu pernyataan adalah sebagaimana yang Aristoteles artikan yaitu ”sesuai dengan keadaan“ pernyataan benar adalah “representasi atas objek” atau cermin atas itu. Tarski menekankan teori kebenaran korespondensi sebagai landasan objektivitas ilmu, karena suatu teori dituntut untuk memenuhi kesesuaian antara pernyataan dengan fakta. Teori kebenaran yang diselamatkan Tarski merupakan suatu teori yang memandang kebenaran bersifat “objektif”, karena pernyataan yang benar melebihi dari sekedar pengalaman yang bersifat subjektif.  Ia juga absolut karena tidak relatif terhadap suatu anggapan atau kepercayaan.
Objektivisme menyingkirkan penilaian para individu yang memegang peranan penting di dalam analisa-analisa tentang pengetahuan, objektivisme lebih bertumpu pada objek daripada subjek dalam mengembangkan ilmu. Bila teori ilmiah benar dalam arti sesungguhnya, yaitu bersesuaian secara pasti dengan keadaan, maka tidak ada tempat bagi interpretasi ketidaksetujuan, beberapa ilmuwan percaya bahwa teori-teori mewakili kebenaran.
Roger berpendapat bahwa teori-teori selalu merupakan imajinasi dari konstruksi mental, dikuatkan oleh persetujuan antara fakta observasi dan peramalan atas implikasi. Kelemahan kebenaran merupakan kesesuaian dengan keadaan adalah mereka merupakan penyederhanaan dan pengabstraksian dari hubungan antara fakta-fakta dan kejadian- kejadianyang digabungkan dengan unsur persetujuan.

*      Kebenaran Ilmu dan Filsafat

          Baik ilmu maupun filsafat, keduanya hasil dari sumber yang sama, yaitu ra’yu manusia (akal, budi, rasio, reason, nous, rede, vertand, vernunft).
Ilmu pengetahuan mencari kebenaran dengan jalan penyelidikan (riset, research), pengalaman (empirik) dan percobaan. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara mengembarakan atau mengelanakan akal budi secara radikal dan integral serta universal tidak merasa terikat dengan ikatan apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri bernama logika. Kebenaran ilmu pengetahuan adalah kebenaran positif (berlaku sampai dengan saat ini), sedangkan kebenaran filsafat adalah kebenaran spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiris, riset dan eksperimental).


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
A.
Kebenaran adalah sesuatu yang dijadikan sebagai nilai dan pandangan hidup dan terjadinya persesuaian antara fikiran dan kenyataan yang menimbulkan ketidakraguan. Ketidakraguan itu muncul dikarenakan apa yang menjadi harapan dan kenyataan melalui proses intepretasi, penafsiran dan olah fikir selalu sejalan dan tidak bertentangan dengan apa yang ada di dalam akal dan wahyu.  
Oleh karena teori-teori kebenaran (koresponden, koherensi, dan pragmatisme) itu lebih bersifat saling menyempurnakan daripada saling bertentangan, maka teori tersebut dapat digabungkan dalam suatu definisi tentang kebenaran.  Dari beberapa Teori Tentang Kebenaran dapat disimpulkan :
Teori Korespondensi :
"Kebenaran/keadaan benar itu berupa kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh sebuah pendapat dengan apa yang sungguh merupakan halnya/faktanya".
Teori Konsistensi :
"Kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan (judgement) dengan sesuatu yang lain, yaitu fakta dan realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri ".
Teori Pragmatis :
"Teori pragmatis meninggalkan semua fakta, realitas maupun putusan/hukum yang telah ada. Satu-satunya yang dijadikan acuan bagi kaum pragmatis ini untuk menyebut sesuatu sebagai kebenaran ialah jika sesuatu itu bermanfaat atau memuaskan".
Untuk memperoleh kebenaran pengetahuan yang benar ada 2 cara yang dapat ditempuh, yaitu dengan cara Non-Ilmiah dan cara Ilmiah.
            Cara Non-Ilmiah :
*      Akal Sehat (common sence)
*      Prasangka
*      Pendekatan Intuitif
*      Kebetulan atau Coba-Coba
*      Pendapat otoritas ilmiah dan pikiran ilmiah

Cara Ilmiah :
*                            Skeptik
*                            Analitik
*                            Kritis

  1. Saran
Dari makalah kami yang singkat ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua umumnya kami pribadi. Yang baik datangnya dari Allah, dan yang buruk datangnya dari kami. Dan kami sedar bahwa makalah kami ini jauh dari kata sempurna, masih banyak kesalahan dari berbagai sisi, jadi kami harafkan saran dan kritik nya yang bersifat membangun, untuk perbaikan makalah-makalah selanjutnya.








DAFTAR PUSTAKA
Abbas, Hamami. Kebenaran Ilmiah dalam: Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta : Intan Pariwara, 1997. Hal 87
Daldjoeni, N, Ilmu dalam Prespektif , Jakarta : Gramedia, cet. 6, 1985. Hal 235
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat II, Yogyakarta : Kanisius, 1980
Inu Kencana, Syafi’i. Filsafat kehidupan (Prakata ), Jakarta : Bumi Aksara, 1995.
Lorens, Bagus, Kamus Filsafat ,  Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama,2002. Hal 93.
M. Rasyidi, Persoalan-Persoalan Filsafat , Jakarta : Bulan Bintang, 1987.
Poedjawijatna, Pengantar Ke I Imu dan Filsafat , Jakarta :  Bina Aksara, 1987. Hal 16.
Pranarka, Epistemologi Dasar : Suatu Pengantar . Jakarta : CSIS, 1987.
Sahidah, Ahmad.  Kebenaran dan Metode, Yogyakarta : Pustaka Pelajar,1975.
Sonny Keraf, Ilmu Pengetahuan : Sebuah Tinjauan Filosofis , Yogyakarta : Kanisius, 2001. Hal 66.
Sumiasumantri,Jujun S.  Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer , Jakarata : Pustaka Sinar harapan, 1990.
Taryadi.  Epistemologi Pemecahan Masalah, Yogyakarta, Kanisius, 1989.
Wibisono, Kunto.  Aktualitas Filsafat Ilmu, Yogyakarta : Gadjah Mada Press, 1984.
http://developmentcountry.blogspot.com/2009/10/teori-kebenaran-ilmiah.html

0 comments:

Post a Comment